LPPM Unand dan Angkatan Muda Muhammadiyah usai diskusi politik. Foto: Nanda
Pariaman - Situs berkonten radikal diyakini ikut berperan menyebarkan pemahaman radikalisme di Indonesia. Hasil penelitian menyatakan jika puluhan - bahkan ratusan situs yang disinyalir bermuatan pemahaman radikal - sering diakses oleh masyarakat, terutama anak muda.

Pencarian jati diri dan ideologi generasi muda rawan terkontaminasi oleh pemahanan radikal yang mudah diakses melalui internet. Penganut radikalisme melakukan berbagai cari mencapai tujuannya yang dianggap benar. Tindakan teror dianggap jihad, begitu pula meninggal dalam melakukan aksi teror dianggap syahid.

"Karena hasil riset menunjukkan jika anak muda rentan terpengaruh radikalisme. Radikalisme berkembang masuk ke dunia sekolah, kampus, politik dan agama. Riset juga menunjukkan anak muda lebih memilih mengakses situs yang berbau radikal dibandingkan situs organisasi Islam moderat. Sehingga informasi yang mereka dapatkan adalah konten radikalisme," kata perwakilan tim Lembaga Penelitian dan Pengabdilan Masyarakat (LPPM) Universitas Andalas Padang, Zulfadi saat kegiatan pendidikan politik deradikalisasi bersama Angkatan Muda Muhammadiyah Pariaman Utara di Kantor Camat Pariaman Utara, Kota Pariaman, Minggu (4/10).

Perkembangan informasi tanpa batas yang terjadi seiring kemajuan teknologi tidak bisa dibendung. Begitu pula dengan penyebaran paham radikalisme melalui media sosial. Jika tidak diantisipasi, paham tersebut akan cepat menyebar.

"Yang perlu dilakukan adalah menanamkan filter kepada anak muda terhadap konten radikalisme. Pendidikan politik ini, sebagai gerakan kontraradikal, mengecah angkatan muda terpengaruh radikalisme," ulasnya.

Ia mengatakan, pemahaman radikalisme menganut azas kebenaran tunggal, tidak mengakui  kebenaran orang lain. Azas tersebut mengklaim paham dan kelompoknya paling benar. Sedangkan orang tidak sepaham dan berbeda kelompok dicap kafir. Paham tersebut ditandai dengan penyebaran ujaran kebencian terhadap kelompok yang berbeda.

"Dari sisi penyebab, radikalisme disebabkan oleh beberap faktor, yakni faktor pemikiran, faktor ekonomi, faktor politik, dan faktor sosial," kata dia.

Menangkal radikalisme, kata dia, dapat dilakukan dengan dua hal. Pertama, melakukan preventif dengan menanamkan jiwa nasionalisme, berfikiran terbuka dan toleran, waspada terhadap provokasi. Kedua, kuratif dengan memberikan informasi tentang bahaya radikalisme, memberikan paham keagamaan yang benar, dan menguatkan nilai nasionalisme.

"Pencegahan terorisme selama ini hanya dilakukan oleh negara. Namun belum maksimal, diperlukan peran "non state actor" yakni masyarakat, organisasi dan tokoh masyarakat guna mencegah perkembangan radikalisme. Menyadarkan penganut paham radikal sangat sulit, lebih baik kita mencegah," kata dia.

Pengamat politik Islam dari Universitas Andalas, Sadri Chanoago menegaskan, jika Universtias Andalas berkomitmen aktif berperan melakukan deradikalisasi di Sumtera Barat. Selain di Kota Pariaman, kegiatan pengabdian masyarakat serupa juga telah dilakukan di daerah lain.

"Deradikalisasi itu harus dilakukan banyak sektor, tidak hanya pemerintah tapi kita di sini termasuk masyarakat harus terlibat," ujarnya. (Nanda)

Sumber: Pariamantoday.com
DOWNLOAD APK APLIKASI ANDROID BERITA RANAH MINANG


   

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.