Minggu pagi, berjalan di pematang sawah dengan angin dingin yang tak hentinya berhembus memaksa saya untuk kembal imerapat kan jaket. Menikmati alam dengan bau khas hamparan padi yang baru ditanam, kicau burung dari rimbunan pohon, suara talempong yang sahut menyahut, juga sederetan meja yang menawarkan makanan local menguapkan tekanan rutinitas dalam sepekan lalu.

Skenario alam seperti itulah yang akan didapatkan kalau berkunjung ke Pasar Digital Desa  Wisata Kubu Gadang Kota Padang Panjang setiap hari Minggu, satu hari penuh. Menurut Hendri Fauzan, Kepala Dinas Pariwisata Padang Panjang, didampingi Kabid Pariwisata, Medi Rosdian, selain atraksi  ilekLanyah-­nya yang sudah terkenal itu, pasar digital ini juga banyak   menyediakan sajian makanan   “saisuak”  yang langka dipasaran.

Kesempatan membuat teh talua langsung oleh pembeli, memberi pengalaman baru bagi pengunjung. Tak percaya?  Walikota Padang Panjang,  Deputi Kementerian Pariwisata Bidang pengembangan dan pemasaran RI, Eti Sulistiowati Fadly Amran, ketua DPRD Novi Hendri, telah membuktikan.

“Ternyata membuat teh talua itu tidak gampang ya,” ujar Fadly sembari melempar senyum. Kemudian Walikota yang dilantik belum genap satu purnama itu berjalan menuju sederet tempat berfoto yang tentunya instagrammable.

Aneka permaian anak nagari ada disini. Randai di dalam sawah, silek lanyah, kesenian tradisi seperti gandang tambua, saluang dan pupuik batang padi serta olahraga airsoft gun ikut meramaikan iven mingguan ini.  Tak ketinggalan Rumah hunter yang   digagas komunita  sairsoft gun Padang Panjang. Airsoft gun berupa simulasi kegiatan militer atau kepolisian yang menggunakan replica senjata api dengan peluru karet. Harga satu pelurunya  Minggu lalu itu masih  dalam masa promosi, yakni Rp 10 ribu. Jika datang sendiri dan tidak ada lawan main, tidak perlu khawatir karna panitia akan menyiapkan lawannya untuk kita.

Sementara untuk system transaksinya, di Pasar Digital Kubu Gadang ini tidak menggunakan rupiah melainkan alat tukar khusus berupa koin dari kulit yang didesain menyerupai uang yang bisa ditukarkan kepada panitia. Untuk harga koinini dibandrol dari Rp 2000, Rp. 5000, Rp. 10.000, Rp. 20.000, Rp. 50.000 dan Rp 100ribu. Nanti di akhir acara, sipenjual akan menukarkan semua koin dari kulitnya yang didapat dari hasil transaksi pembeli kepada panitia untuk ditukarkan dengan uang asli. Tiga buah lapek bugih dibandrol seharga Rp. 5000. Konsepnya disisi harga, tidak merugikankan para penjual yang dominan berasal dari penduduk sekitar.

Ada keiistimewaan bagi tetamu yang dibawa oleh travel agen kesini Minggu pekan lalu itu. Begitu rombongan tutun dari bus, mereka satu satu diberikan talempong.  Semberi berjalan di pematang sawah, alat musik tradisi Minangkabau inipun dipukul sekenanya saja oleh  tamu dari Malaysia dan  Pakistan. Boro boro harmonisasi musiknya, yang ada hanya suara gaduh yang kacaubalau.

Kemudian, entah siapa yang member isyarat   para remaja, anak anak dan orang tua turun yang tinggal sekitar lokasi, turun dari rumah mereka sembari memainkan talempong pacik. Nada talempong dari satu dengan yang lainnya saling bertautan membentuk melodi sendiri. Tanpa adanya dirigen music  pukulan talempong dari sang tamupun  akhirnya mengikuti ritme yang ada. “Waduh luar biasa. Sangat surprise. Saya tak menyangka peneyambutan kami disini   sungguh luar biasa. Tak akan terlupa. Mau kesini lagi, “ ujar  Abdul Halildari Malaysia.

Kegiatan lainnya, berkali kali Cristoperdari Australia, Michael dariJerman , Liza dan Davit dari Hungary, Marty dari Slovakia yang datang lebih awal mengabadikan diri   di spot spot foto yang ada. Kelucuan terjadi tatkala Michael dari Jerman saat ingin mencicipi makanan tradisional kalamai gegek yang unik.  Struktur makanan yang satu ini lembek. Terbuat dari tepung sagu campur gula tebu dan ditaburi kelapa parut. Dalam Bahasa minangnya gegek berarti  bergetar.

Si traveller bule ini terpaksa berbahasa isyarat  dengan emak-emak penduduk setempat .Bayangkan saja bagaimana keduanya hanya bisa menggerakkan tangan saling mengode sambil tertawa karena sama-sama tidak mengerti apa yang dimaksud.

Tidak hanya traveller Jerman, satu bus berisi pelancong dari negara jiran Malaysia juga datang siang harinya menikmati Nasi Kabaka, kuliner khas Padang Panjang yang sedang diviralkan penduduk setempat. Pengunjung bisa memilih untuk makan di dalam Pondok beralaskan jerami, pondok bambu yang ada atau di tepi sawah dengan tikar yang sudah disiapkan panitia sambil menikmati hembusan angin yang datang dari sawah dan gunung yang terlihat di kejauhan.

Benny Satria, juragan pasar, menyebutkan, pada hari launchingnya, Minggu lalu, total transaksi pasar digital pertama di Padang Panjang ini bisa dibilang fantastis.  Totalnya mencapai Rp 17 Juta, dengan jumlah pengunjung sekitar 2000 orang.

Pasar digital Kubu Gadang inid iresmikan oleh Deputi Kementerian Pariwisata Bidang pengembangan dan pemasaran RI, Eti Sulistiowati Minggu. Dihadiri Walikota Padang Panjang, Fadly Amran, didampingi ketua DPRD, Novi Hendri, Kadis Kominfo Marwilis, Kadis Perhubungan Iputu Venda, Kaol PP Arker Refagus dan   pejebat Pemko  dan masyarakat Padang Panjang.

Kedepan desa wisata Kubu Gadang yang hanya berjarak sekitar 4 Km ke timur dari pusat kota akan terus dibenahi.  Kalau sekarang area airsoft gun baru berupa hamparan terbuka, nanti akandilengkapi dengan aksesorisnya seperti benteng  dan tempat tempat lari melindungi diri hingga bermain perangan perarangan  lebih  asyik. ** Yetti Harni/Jeyhan

 

WhatsAppFacebookTwitterYahoo MailLineGoogle GmailEmailYahoo BookmarksShare


Sumber: portalberitaeditor.com
DOWNLOAD APK APLIKASI ANDROID BERITA RANAH MINANG


   

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.