Padangpanjang - Banyak kisah dalam perjalanan Siti Manggopoh. Sedemikian banyak juga hal yang hampir luput dari kehidupan masyarakat di sana yang semestinya juga sejalan dengan perjuangan patriot perempuan yang berjuluk Singa Betina dari Ranah Agam tersebut.

Suatu pertunjukan drama tari yang bercerita tentang perjuangan seorang perempuan berasal dari Ranahminang. Perempuan asli Kabupaten Agam daerah Lubukbasung ini merupakan sosok inspiratif bagi pengkarya dalam menentukan alur permainan dalam karyanya. 

Mengambil beberapa poin penting dari sosok Siti Manggopoh, pengkarya melakukan eksplorasi yang melahirkan gerak ritmis kepada penari dan pendukung karyanya. Pelahiran gerak tersebut dibarengi dengan alunan dendang Minangkabau dalam mengiringi bagian dari karya drama tari ini. 

Dosen Fakultas Seni Tari ISI Padangpanjang, Dr Rasmida SSn MSn mengatakan “Lengking Dendang Dalam Pekat” merupakan alunan dendang Minangkabau yang digunakan sebagai suara latar dari kepekatan perjuangan yang dilakukan oleh Siti Manggopoh. Semangat juang dari seorang Siti Manggopoh digambarkan melalui gerakan rampak yang energik dari penarinya, serta komposisi musik yang harmoni menjadi bagian pengantar karya ini. 

Gerak dan laku pemain dalam karya ini digambarkan sebagai sosok Siti Manggopoh dan lingkungan sekitarnya. Pada bagian pertama karyanya itu, Rasmida menghadirkan sosok Siti Manggopoh yang taat dalam beragama. 

“Penggunaan jubah putih dan dengan iringan shalawat memberikan sentuhan rohani yang dapat dilihat dan dirasakan penonton. Kemudian di bagian kedua karya, penggunaan bambu runcing sebagai Hand Property merupakan gambaran seseorang dengan jiwa patriot yang kental,” ujar Rasmida. 

Dikatakan Rasmida, pertunjukan peraih ibah pencipitaan dan penyajian seni Kemenristekdikti ini merupakan anugerah yang didapatkannya untuk mengekspresikan seni di ruang publik. Dalam proses penggarapan karya ini, Rasmida menggunakan pendekatan dengan unsur randai Minangkabau sebagai bahan eksplorasi dalam karya ini.  

Palangkaraya dan Korsel

Dalam pengemasan pertunjukannya, Rasmida menghadirkan properti beberapa bambu runcing dan tebaran daun kering menghiasi panggung. Pada sisi kanan terlihat pohon-pohon, yang memberikan kesan perkampungan Minangkabau. Kemudian pada area permainan juga tergantung tiga helai kain besar dengan warna merah, kuning dan hitam sebagai simbol Marawa di Minangkabau. 

Sukses pada pertunjukkan peringatan satu decade Pascasarja ISI Padangpanjang, karya peraih ibah Kemenristekdikti ini juga diundang bersama 12 pengkarya dari 40 yang diseleksi untuk tampil pada “Cheonan World Dance Festival” di Korea Selatan. Namun karena jadwal bertubrukan, Rasmida memutuskan untuk dipergelarkan pada Temu Taman Budaya se-Indonesia di Palangkaraya mewakili Sumbar, Jumat (14/9) mendatang.

Malalui karya tersebut, Rasmida mengaku ingin menyampaikan suatu spirit dan semangat seorang pejuang yang kental jiwa patriot di tanah Agam sana. Harapannya, semangat Siti Manggopoh menjadi bagian kecil yang mesti dijadikan acuan dalam menjalani kehidupan, terutama bagi generasi saat ini untuk tidak melupakan perjuangan yang telah dilakukan sang Singa Betina, Siti Manggopoh. 

“Dengan begitu, perjuangan Siti Manggopoh dapat dihargai dan ditempatkan sejajar dengan pahlawan-pahlawan nasional lainnya. Kemudian harapan besar bahwa kesenian-kesenian tradisional yang kalah populer di Minangkabau mendapat perhatian dari seniman-seniman lainya,” pungkas Rasmida. (Del)

Sumber:pasbana.com
DOWNLOAD APK APLIKASI ANDROID BERITA RANAH MINANG


   

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.