Jakarta, Editor.– Minggu (9 April 2018) areal car free day  (CFD) jl.Sudirman – Thamrin, Jakarta, untuk kedua kalinya, terlihat ramai dan meriah, “dihoyak” Tambua Tansa”. Sebelumnya, bulan Juli lalu parade tambua tansa ini sudah berlangsung, dalam rangka menyambut Festival Danau Maninjau yang bakal digelar 6-7 Oktober mendatang.

Arak-arakan tambua tansa khas kesenian Minangkabau, khususnya masyarakat Salingka Danau Maninjau ini, memang menarik, dengan kostum khas dengan warna mencolok, diringi oleh gadis minang dan ibu-ibu berpakaian bundo kanduang, mampu menyedot perhatian warga ibu kota yang tengah menikmati hari libur di area car free day.

Yunita (29 thn), salah seorang pengunjung CFD, mengungkapkan, ia merasa sangat terhibur dengan araka-arakan tambua tansa ini. “Irama tambua yang menggelegar, namun berirama khas, dan dipadu dengan pakaian warna-warni, membuat atraksi ini meriah dan serasi,” ugkap Yunita.

“Lantunan irama tanbur ini, mengajak kita bergoyang. Meski saya bukan berasal dari Minangkabau, dan baru kali ini menyaksikan atraksi kesenian khas Minangkabau ini, saya merasa bangga, Indonesia memiliki kekayaan kasanah seni budaya tradisional. Salut buat panitia,”pungkasnya.

Ketua Panitia Festival Danau Maninjau 2018, Walneg S. Jas mengatakan acara hari ini merupakan rangkaian dari kegiatan Festival Danau Maninjau 2018 yang puncaknya akan dihelat pada 6 dan 7 Oktober 2018 di Bumi Perkemahan Buperta Pramuka Cibubur Jakarta Timur.

Walneg melanjutkan, kami perlu memberikan informasi dan sosialisasi kepada masyarakat luas bahwa kegiatan Festival Danau Maninjau bertujuan untuk menggalang simpati dan partisipasi segenap lapisan masyarakat khususnya pencinta Danau dan lingkungan, untuk turut peduli menyelamatkan Danau Maninjau yang saat ini sudah tercemar berat.

“Kami para perantau dari Salingka Danau Maninjau, akan menggunakan segala kemampuan yang ada, untuk membantu pemerintah daerah maupun.pemerintah pusat dalam mencarikan solusi permanen bagi pelestarian Danau Maninjau,” lanjut Walneg.

Lebih jauh Walneg menyebutkan, bahwa solusi permanen untuk penyelamatan Danau Maninjau adalah dengan hadirnya keputusan pemerintah pusat agar Danau Maninjau diputuskan statusnya sebagai Danau Konservasi dan agar masyarakat di sekitar Danau Maninjau yang bermata pencaharian Karamba Jala Apung (KJA) dapat didampingi dan dicarikan usaha alternative, ekonomi alternatif selain KJA.

Rekor Muri

Selain Parade Tambua dan Tansa di Arena CFD, rangkaian kegiatan Festival Danau Maninjau pada puncaknya tanggal 6-7 Oktober mendatang, akan dilangsungkan Pencatatan Rekor MURI 1, berupa atraksi 1000 tambua.

Atraksi 1000 Tambua, pada Festival Danau Maninjau nantinya, merupakan Festival Tambua terbesar sepanjang sejarah, yang bakal dikuti oleh grup kesenian tambua tansa minang seluruh Indonesia, bahkan yang berasal dari luar negeri.

Selain itu, ada Festival Kuliner Minangkabau yang akan.menghadirkan lebih dari 200 kuliner asli Minangkabau. Sementara itu, di danau Maninjau sendiri akan dilaksanakan kegiatan pembersihan danau maninjau serta berbagai kegiatan dalam rangka pemberdayaan ekonomi alternatif petani KJA.

Pada Festival Danau Maninjau 2018, Sabtu dan Minggu (06-07 Oktober 2018) pukul 09.00 sd 21.00 WIB, disamping menampilkan kesenian tradisional minang, juga akan dimeriahkan oleh Artis Nasional dan Artis ternama asal Minang. Dalam kegiatan ini, panitia juga akan menyeleggarakan kagiatan “Peduli Danau Maninjau” dengan menerima donasi dari masyarakat umum melalui https://kitabisa.com/savemaninjau#

** Wisja

WhatsAppFacebookTwitterYahoo MailLineGoogle GmailEmailYahoo BookmarksShare


Sumber: portalberitaeditor.com
DOWNLOAD APK APLIKASI ANDROID BERITA RANAH MINANG


   

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.