Padang Panjang -- Masyarakat Padangpanjang akrab dengan kebersamaan. Kelompok masyarakat terbentuk di surau dan dilapau. Mereka yang di surau lekat dengan pengajian. Sedangkan kelompok yang di lapau sering bicara perekonomian. Di situ terlihat keseimbangan rohani dan jasmani. Ini pula bentuk kehidupan hakiki masyarakat Minangkabau.

Di Padangpanjang orang tidak memandang tinggi pangkat dan jabatan serta harta kekayaan. Mereka akan hormat pada orang yang berilmu. Terutama yang tinggi ilmu agama dan mendalam pemahamannya. Karena itu pula sejak dahulu di Padangpanjang banyak sekolah agama dan terkenal mutu pendidikannya.

Di sinilah berdiri sekolah agama modern pertama di Indonesia, yakni Diniyah School dan Diniyah Putri, juga yayasan pendidikan Thawalib tempat Hamka pernah menuntut ilmu. Ini pula salah satu yang mengharumkan nama Minangkabau selama ini.

Kota ini punya banyak julukan. Selain kota hujan, Padangpanjang disebut Kota Serambi Mekkah. Pada masa lalu, Belanda menyebut Padangpanjang dengan Egypte van Andalas (Mesir di Tanah Sumatera). Juga disebut Kota Pendidikan karena banyaknya institusi pendidikan dan sejarah panjang bagaimana kota ini memerankan peran pendidikan sejak masa lalu. Ini pula yang manaikkan pamor Minangkabau di pentas nasional.

Sejak zaman kolonilal, Padangpanjang memainkan peran penting sebagai tempat persinggahan dan menjadi simpul 3 kota utama di pulau  Andalas, yakni Medan, Padang, dan Pekanbaru. Ini menunjukan, bahwa Padangpanjang berandanya Minangkabau.

Tak heran, banyak tokoh-tokoh Sumatera Barat di masa lalu mempunyai irisan penting dengan Padangpanjang. Untuk menyebut beberapa nama seperti Sutan Sjahrir, Hamka, AA Navis, Huriah Adam, Rahmah Elyunisiah, Bustanul Arifin, Tarmizi Thaher.

Masyarakat Padangpanjang, akrab dengan alam. Daerah mereka dipagar oleh gunung yang tinggi. Di bagian utara dan agak ke barat Padangpanjang berjejer tiga gunung: Gunung Marapi, Gunung Singgalang dan Gunung Tandikat yang menjulang. Itulah gunung kebangaan Minangkabau.



Berguru Kepada Alam

Masyarakat Padangpanjang, dalam keseharian selalu mengihidupkan tradisi bermasyarakat ala Minangkabau. Siapa saja yang menetap di kota ini, akan merasa betah jika memakaikan filosofi adat: di maa bumi dipijak di sinan langik dijujuang.

Dalam pergaulan, kato nan ampek tetap menjadi pedoman: kato mandaki, kato manurun, kato mandata dan kato malereang.

Orang Padangpanjang, hanya akan hormat pada orang yang menanam budi. Sesuai dengan filosofi Minangkabau. Kok cadiak awak urang ndak batanyo. Kok pandai awak urang ndak baguru. Kok bagak awak urang ndak kabacakak. Kok kayo awak urang ndak mamintak. Tapi jika kita menanam kebaikan, maka orang menghormati dalam keseharian. Malah setelah meninggal pun akan dikenang.

Padangpanjang Adalah Saripati Minangkabau

Berbicara tentang Padangpanjang. “Ini adalah kota yang berbahagia,” demikian tulis AA Navis, pengarang Robohnya Surau Kami yang fenomenal itu. Navis melanjutkan, "Di sana ada batu kapur yang memberi hidup, ada sawah, ada sungai yang memberi hidup, ada rel kereta yang memberi hidup..."



Ketika orang menyebut Sumatera Barat, tanpa sengaja melintas di pikirannya alam yang indah dan masyarakat yang ramah baik hati. Hal ini terbersit manakala melihat tingkah laku anak Minang di perantauan yang penuh sopan santun. Di kota mana pun dan ke daerah mana pun mereka mengadu nasip, tetap saja mendapat tempat di hati masyarakat setempat.

Para wisatawan ke Sumbar beberapa waktu lalu, dominan membicarakan Sumatera Barat dengan menyebut dua kota saja, yaitu Padang dan Bukittinggi. Tetapi kini pesona Sumatera Barat sudah beralih ke kota kecil yang indah dan cantik elok rupa yang bernama Padangpanjang.

Seperti diakui Akhyari Hananto seorang penikmat wisata nasional. Dia menyebutkan ketakjubannya terhadap Padangpanjang. Seperti dituliskannya di media sosial internet Beta GoodNews From Indonesia. 

Dia memulai dengan sebuah pertanyaan. Tempat apa yang terlintas di benak anda ketika mendengar nama Sumatera Barat atau Ranah Minang? "Sebagian besar mungkin akan menjawab Padang atau Bukittinggi sebagai dua nama yang selalu terngiang pertama kali," tulisnya.

Kemudian Hananto melanjutkan tulisannya. "Belum lama lalu, saya pun merasakan hal serupa. Namun kini,  saya punya nama baru, yang telah sangat membekas di benak saya. Namanya adalah Padangpanjang," katanya.

Pengakuan Hananto itu kata Sekretaris Dinas Kominfo Padangpanjang Ampera Salim, tepat sekali dan tidaklah berlebihan. Menurutnya, beberapa waktu lampau, orang di luar Sumbar mungkin tak sering mendengar Padangpanjang. Tapi kini kota berjuluk serambi mekah itu, sudah lekat diingatan setiap orang yang pernah atau akan berwisata ke Sumbar.

Disebutkan, kota ini dikelilingi pegunungan dengan pohon-pohon menjulang dari hutan primer yang hijau. Kota dengan wilayah terkecil di Sumatera Barat, ini berada di daerah ketinggian yang terletak antara 650 sampai 850 meter di atas permukaan laut. Berada pada kawasan pegunungan yang berhawa sejuk dengan suhu udara maksimum 26.1 °C dan minimum 21.8 °C, dengan curah hujan yang cukup tinggi dengan rata-rata 3.295 mm/tahun.



Inilah salah satu kota yang alamnya bernuansa pedesaan. Udaranya bersih. Masyarakatnya ramah. Setiap pejabat daerah lain yang melakukan kunjungan kerja ke Padangpanjang, pasti memuji keindahan alam dan keramahan warga kota ini.

Akhyari Hananto menyebutkan, "Jika di Jawa kita punya Bogor yang berjuluk Kota Hujan, maka Padangpanjang adalah Kota Hujan di Sumatera. Saya mengunjungi kota ini di hari-hari awal musim hujan, dan benar saja hujan di sini benar-benar deras," kata Hananto.

Melukiskan rasa kagum kepada Padang panjang Akhyari Hananto menyebut, di Padangpanjang lah setting cerita fenomenal Tenggelamnya Kapal Van Der Wick dan salah satu Cerpen yang sangat dia sukai: Robohnya Surau Kami. Dia juga mengatakan dengan jujur, di Padangpanjang dia  diterima sebagai keluarga. 

"Padangpanjang memang kota nan elok. Jika ada waktu datanglah ke Padangpanjang menikmati alamnya yang indah dan kulinernya enak sekali," kata Ampera Salim.

Objek Wisata Padangpanjang

Objek wisata di kota ini juga banyak dan beragam. Seperti wisata sejarah dan budaya (historical and cultural tourism), pemandian Lubuk Mata Kuciang, wisata kampus (educational tourism), wisata kesehatan (health tourism), wisata ivent (event tourism), wisata religi, kuliner, agrowisata, dan wisata alam.

Saat ini, Pemko Padangpanjang, menjadikan nasi kabaka sebagai salah satu daya tarik wisata kuliner yang ada di kota itu. Sekretaris Dinas Pariwisata Kota Padangpanjang, Dalius Rajab bersama Kepala Bidang Pariwisata, Medi Rosdian, menceritakan beberapa waktu lalu, nasi kabaka merupakan nasi yang dibungkus padat menggunakan daun pisang lembut, lauknya dibenamkan ke dalam nasi.

Lauknya seperti di rumah makan biasa, ada telor, ikan, ayam, rendang, jengat, dendeng. Tetapi pada nasi kabaka, lauk itu sejak awal dimasukan ke tengah nasi. Nanti begitu dibuka, wangi daun pisang menyeruak membuka selera.

“Hingga kini tempat usaha nasi kabaka di Padangpanjang ada sembilan buah. Harganya berkisar antara Rp.12.000 hingga Rp.17.000 per bungkus,” kata Dalius.


Disebutkan, sejak tahun 2016, pihaknya sudah menjual nasi kabaka sebagai paket perjalanan wisata ke bandara, tetapi tidak begitu banyak wisatawan yang berminat karena kurangnya informasi tentang nasi kabaka ini.

Sementara Medi Rosdian, mengatakan, Pada tahun 2018, Dinas Pariwisata kembali akan membuat nasi kabaka sebagai produk unggulan. “Kami akan jadikan kuliner nasi kabaka ini sebagai produk unggulan serta mempunyai nilai jual yang tinggi untuk wisatawan dan masyarakat,” jelas Medi.

Dikatakan, untuk mewujudkan hal itu, Dinas Pariwisata mengajak pengusaha kuliner Padangpanjang agar mau menyiapkan nasi kabaka di tempat mereka jualan, baik sebagai produk unggulan maupun produk tambahan.

Selain itu, juga akan bekerja sama dengan travel agent agar mempromosikan nasi kabaka kepada wisatawan yang singgah dan melintasi Padangpanjang.

Bagi anda yang berkunjung ke Sumatera Barat, jangan lupa singgah ke Padangpanjang menikmati nasi kabaka. (***)

Sumber:pasbana.com
DOWNLOAD APK APLIKASI ANDROID BERITA RANAH MINANG


   

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.