Padangpanjang, Editor.- Menjejak Buya Hamka. Itu judul sejenis filem dokumenter perjalanan Buya HAMKA yang akan tayang secara bersambung sekali sepekan mulai September 2018 ini di salah satu stasiun televisi Malaysia. Obyek shoting lebih banyak di Sumatera Barat, berikut di Jakarta, Yogya dan Surabaya.

Kegiatan shoting di Sumatera Barat menurut Fendi Sidi, sang produser di sela-sela kegiatannya mendampingi timnya melakukan shoting di Perguruan Thawalib Padangpanjang, Minggu (2/9) lalu, antaralain di Kota Padangpanjang; Sungaibatang, Maninjau, Kabupaten Agam; Kota Bukittinggi; dan Kota Padang.

Di Padangpanjang, kota sejuk dengan view Gunung Merapi, Singgalang dan Tandikek di pertigaan jalan darat jantung Sumatera itu, obyek shotingnya terbanyak di kampus tua Perguruan Thawalib, Kelurahan Pasausang. Kedua, di MA-KMM (Madrasah Aliyah – Kuliatul Mubalighien Muhammadiyah) Kauman, Kelurahan Gugukmalintang.

Sisi apa saja dari perjalanan Buya Hamka di Padangpanjang yang hendak diangkat dalam filem ini? Fendi didampingi Munawar (sutradara), Zahiril Adzim (artis) dan Hendri Ilham dari Jejak Tarbiyah (koordinator), menyebut antaralain Perguruan Thawalib di Kelurahan Pasausang, dan MA-KMM  Kauman Kelurahan Gugukmalintang.

Catatan dipiroleh Editor, Hamka lahir 17 Pebruari 1908 di Sungaibatang, Maninjau, Kabupaten Agam. Masa kecil ia lalui di Maninjau, terus ikut ayahnya, Haji Abdul Karim Amrullah: HAKA) ke Padangpanjang. Terus, waktu usia remaja, sekolah di Perguruan Thawalib Padangpanjang, pesantren yang didirikan oleh ayahnya pada 1911 M.

Untuk diketahui, Thawalib Padangpanjang yang berdiri sekitar 150 meter di utara Perguruan Diniyah Putri — yang didirikan Rahmah El Yunuisyah pada 1923 M – itu, adalah pesantren pola klasikal pertama di tanah air. Tadinya, pola klasikal itu dikenal pada sekolah umum, seperti Normal School yang didirikan oleh pemerintahan koloneal Belanda pada 1904.

Hamka remaja pernah sekolah di Thawalib Padangpanjang itu. Tapi tidak sampai selesai, terus pindah ke Perguruan Thawalib Parabek, Bukittinggi. Meski, Thawalib di Parabek itu berdiri kemudian setelah Perguruan Thawalib Padangpanjang. Kelak, seperti diketahui ada sekitar 8 pesantren di Sumbar memakai nama Thawalib dengan pola kurikulum sejenis.

Bagi Padangpanjang, kota yang menurut A.Nadjir Joenoes, mantan wartawan/kholumnis (1950-1960-an) dan dosen ASKI/STSI Padangpanjang (1980-1990-an) pernah disebut sebagai Mesir van Andalas oleh penulis dari Belanda itu, Hamka adalah salah seorang tokoh besar nasional yang pernah berkiprah di kota ini.

Tokoh nasional lain antaralain H. Abdul Karim Amarullah (ayah Hamka), St. Syahrir (mantan Perdana Menteri RI), MD. Dt. Palimo Kayo (mantan Dubes RI di Irak), AR St. Mansur (mantan Ketua Muhammadiyah pusat), Rahmah El Yunusiyah (pendiri Diniyah Putri, mantan anggota DPR-GR), Rasuna Said, Bustanil Arifin (mantan Menteri Koperasi) dan lainnya.

Karena itu, penulis mencatat pernah adanya usulan di antara forum diskusi terkait di Padangpanjang, agar Pemko setempat mendirikan sebuah gedung yang menghimpun dokumen foto dan informasi terhadap banyak tokoh nasional yang pernah lahir/besar, atau tinggal/berkiprah cukup lama di kota tersebut di masa silam.

Jika usulan ide terwujud, bukan saja sebagai bagian dari upaya nyata dalam menghargai keberadaan para tokoh tadi. Tapi juga sekaligus akan bisa jadi wadah pewarisan nilai-nilai terhadap generasi kini dan mendatang. Berikut, juga akan bisa jadi salah satu obyek wisata sejarah.

Selama ini, terkait keberadaan Buya Hamka saja tidak terhitung orang dari dalam dan luar negeri yang datang ke Padangpanjang menapaktilasinya. Dari luar negeri, terutama Malaysia. Sebab di Malaysia pengagum Buya Hamka banyak sekali, terutama dari masyarakat Melayu. Mereka mengenalnya sebagai ulama dan sasterawan. ** Berliano Jeyhan/Yetti Harni

WhatsAppFacebookTwitterYahoo MailLineGoogle GmailEmailYahoo BookmarksShare


Sumber: portalberitaeditor.com
DOWNLOAD APK APLIKASI ANDROID BERITA RANAH MINANG


   

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.