Saat beberapa orang seniman yang nongkrong di lepau Kardi Dt. Saridano di samping kiri Taman Budaya Sumbar berbincang hangat tentang Indonesiana Flatform, lalu beralih ke harga mati NKRI dan Pancasila, Rahmat Wartira, pengacara kondang, aktifis persilatan dan seniman bersertifikat tiba-tiba saja menyanyikan bait lagu Burung Kakak Tua. Setelah itu dia berkisah bagai pendongeng professional.

Alkisah. Di sebuah pesantren ternama seorang kyai diberi oleh seorang santrinya yang telah sukses seekor burung Kakak Tua berbulu indah dan pintar serta berharga mahal. Selain itu juga telah pandai menirukan beberapa kata, diantaranya kata —- selamat pagi, selamat siang dan selamat malam —, walau kata-kata tersebut diucapkan tak beraturan. Terkadang ucapan — selamat pagi — diucapkannya saat malam tiba.

Kepintaran burung Kakak Tua itu menimbulkan ide bagi si kyai untuk mengajarkan kalimat-kalimat tauhid. Seperti Astagfirullah, Alhamdulillah, Subhanallah dan La illa haillallah. Karena cerdas dan si kyai mengajarinya tiap hari, Kakak Tua itu nyaris melupakan ucapan —- selamat pagi, selamat siang dan selamat malam —, dan setiap ada tamu yang datang mengucapkan salam, burung itu menjawabnya dengan salah satu kalimat tauhid. Bahkan tak jarang semua kalimah tauhid itu dibaca seluruhnya dengan lidahnya yang cadel seperti anak kecil baru pandai berbicara.

Burung Kakak Tua jadi terkenal, termasuk si kyai yang dinilai telah mampu mengajar binatang mengucapkan kalimah tauhid. Pesantrennya pun kian diminati para orang tua sebagai lembaga pendidikan bagi anak-anak mereka untuk belajar ilmu agama.

Suatu hari si kyai terlihat murung dan nyaris tak pernah berbicara banyak selama tiga hari. Hal itu disebabkan oleh burung Kakak Tua itu mati diterkam seekor kucing garong yang hidup liar di sekitar dapur pesantren. Tentu saja perubahan sikapnya itu sangat mencemaskan para santri.

Untuk mengantisipasinya, beberapa orang santri menghubungi seniornya yang dulu memberi burung Kakak Tua itu, agar membeli lagi burung pengganti. Karena sangat hormat pada sang guru dan rasa cinta pada almamater, si senior  membeli lagi seekor burung Kakak Tua berbulu indah dan mengatarkannya kepada si kyai.

“Tak usah terlalu bersedih atas kematian burung itu Kanjeng Kyai. Ini saya belikan lagi burung yang lebih bagus,” kata sang murid berbhakti itu.

Si kyai tidak menjawab dan hanya mengangguk-angukkan kepalanya seperti orang yang sedang berpikir keras. Sikapnya itu membuat sang murid jadi salah tingkah karena merasa apa yang diperbuatnya tidak disukai sang guru.

“Apa burung yang kubawa ini kurang bagus? Kalau begitu akan aku cari yang lebih bagus,” kata si santri itu lagi.

Dengan senyum getir si kyai menatap muridnya yang berbhakti itu, lalu berkata.

“Bukan itu masalahnya. Burung yang mati itu bisa dicari gantinya dalam jumlah banyak. Tapi …,” ucapan si kyai menggantung dan membuat si santri jadi semakin bingung.

“Tapi … apa masalah yang sebenarnya Kanjeng Kyai,” tanya si santri.

“Aku sangat sedih. Bertahun-tahun aku mengajari burung itu kalimah tauhid dan aku merasa bangga dan haru saat mendengai dia mengucapkannya setiap hari. Tapi ketika diterkam kucing garong, burung itu hanya menjerit-jerit dalam bahasa habitatnya. Tak satupun kalimat tauhid yang terucap sampai dia mati oleh cengkeraman kucing garong,” jawab si Kyai.

“Lalu…., apa masalahnya,” tanya si santri yang semakin bingung dan tak mengerti apa yang dimaksudkan gurunya.

“Ya …. Ternyata burung itu hanya bisa meniru apa yang aku ajarkan dan tak pernah tahu makna apa yang diucapkannya. Yang membuatku sedih adalah, jangan-jangan itu juga terjadi pada para santri yang pernah belajar disini. Khatam dan hafidz Alqur’an, hapal dan lancar membaca hadist tapi tak memahami makna hakiki apa yang disebutnya,” keluh si kyai.

Ucapan itu membut si santri hanya bisa berkata .. “Ooooooo …..”

Ending dongeng Rahmat Wartira itu juga membuat para seniman yang tadi adu argument tentang NKRI dan Pancasila seperti dikomando mengucapkan kata … “Oooooooo … begitu ya,” ….

** Rhian D’Kincai

 

WhatsAppFacebookTwitterYahoo MailLineGoogle GmailEmailYahoo BookmarksShare


Sumber: portalberitaeditor.com
DOWNLOAD APK APLIKASI ANDROID BERITA RANAH MINANG


   

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.