Stunting atau kondisi dimana anak mengalami pertumbuhan sering dialami oleh anak yang masih berada pada usia di bawah dua tahun. Jika seorang balita telah mengalami stunting, maka kondisi tubuh tidak bisa lagi dikembalikan seperti semula.

Kebanyakan orang tua hanya melihat perkembangan dan pertumbuhan anaknya dari berat badan saja. Jika berat badan cukup atau melihat pipi anaknya sudah sedikit tembam, maka seorang anak sudah dianggap sehat. Padahal, tinggi badan tak kalah penting untuk dipantau.

“Hasil penelitian yang dilakukan oleh organisasi kesehatan dunia (WHO), lebih dari 20 persen kejadian stunting sudah terjadi ketika bayi masih berada di dalam kandungan. Kondisi ini diakibatkan oleh asupan ibu selama kehamilan kurang berkualitas, sehingga nutrisi yang diterima janin sedikit. Akhirnya, pertumbuhan di dalam kandungan mulai terhambat dan terus berlanjut setelah kelahiran,” kata Kepala Sub Bidang (Kasubbid) Balita dan Anak Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) perwakilan provinsi Sumatera Barat (Sumbar), Nurbaiti Djabang beberapa waktu lalu.

Salah satu bentuk kegiatan penurunan angka stunting, perwakilan BKKBN melaksanakan kegiatan bertajuk “Sosialisasi 1000 Hari Pertama Kehidupan”, sebuah kegiatan penyuluhan kepada ibu-ibu tentang pentingnya memperhatikan kebutuhan nutrisi gizi dan tumbuh kembang anak, semenjak anak dalam kandungan hingga berusia dua tahun.

“Langkah kongkrit yang dilakukan oleh BKKBN adalah penekanan terhadap gizi sensitif melalui pendekatan ke pola asuh anak yang dilakukan oleh keluarga dan orang tua yang punya anak balita di kelompok Bina Keluarga Balita (BKB) bagaimana memberikan stimulasi atau rangsangan terhadap aspek tumbuh kembang anak yang dapat diberikan semenjak anak dalam kandungan,” sambung Nurbaiti di Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat.

Perwakilan BKKBN provinsi Sumatera Barat melaksanakan kegiatan ini di 20 nagari se-Kabupaten Pasaman Barat dan Pasaman, seperti yang dilaksanakan pada Senin hingga Kamis, 24-27 September 2018 di lima nagari, yang diawali dengan Nagari Katiagan, Kecamatan Kinali Pasaman Barat.

Tim yang terdiri dari perwakilan BKKBN Sumbar, selain diwakili oleh Nurbaiti Djabang, juga turut hadir Kabid KSPK Mardalena Wati Yulia, Organisasi Perangkat Daerah (OPD) KB Kabupaten Pasaman Barat serta seorang pakar gizi dari Universitas Andalas Helmizar untuk melakukan sosialisasi kepada 60 orang keluarga yang mempunyai anak bawah dua tahun (baduta), ibu hamil, tokoh masyarakat, PKK Nagari, serta bidan desa setempat.(ju Abdi)

 


Sumber: topikini.com
DOWNLOAD APK APLIKASI ANDROID BERITA RANAH MINANG


   

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.