Padang Panjang, Editor – Kota Padang Panjang 1 dari 51 kota/kabupaten di tanah air meraih penghargaan Kota Layak Anak (KLA) kategori Madya dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA)-RI pada Juli lalu. Itulah satu dari “tumpukan” penghargaan/prestasi nasional diraih oleh Kota Padang Panjang pada 2017-2018 ini.

Penghargaan KLA kategori Madya diserahkan oleh Menteri PPPA-RI, Yohana Yembise kepada Walikota Padang Panjang diwakili oleh Kepala Dinas Sosial, Martoni di Surabaya, Juli 2018 lalu. Pada hari itu ada 177 penghargaan KLA kategori Pratama (pemula), 51 kategori Madya, 11 kategori Nindia, dan 2 kategori Utama diserahkan kepada 177 daerah di Indonesia.

Tapi, seperti sebelumnya sejak program penilaian KLA mulai diluncurkan pada 2006 silam, pada 2018 ini juga belum ada satu pun kota/kabupaten di Indonesia yang berhasil meraih penghargaan KLA murni. Paling tinggi itu baru penghargaan KLA kategori Utama oleh 2 kota,yakni Kota Surabaya di Jawa Timur, dan Kota Surakarta (Jawa Tengah).

Kota Padang Panjang sendiri meraih pemghargaan KLA kategori Madya pada Juli 2018 lalu juga bukan yang pertama. Tapi yang ketiga, yakni pada 2015, 2017 dan 2018 ini. Sebelumnya, kota kecil 23 KM2 dengan penduduk sekitar 53.000 jiwa dipertigaan jalan darat jantung Pulau Sumatera itu menerima penghargaan KLA kategori Pratama (pemula).

Kepala Dinas Sosial, Martoni – yang membidangi urusan PPPA itu – diantara keterangannya balik dari menerima KLA kategori Madya itu, juga belum puas dengan KLA kategori Madya. Apalagi, dari pihak PPPA, diketahui nilai Padang Panjang hampir terpenuhi untuk KLA kategori Nindia. Bahkan, kota ini tidak tergolong berat lagi untuk mencapai KLA kategori Utama.

Sebab, persoalan kosumsi rokok dan pajangan iklan rokok di luar ruang sebagai salah satu kendala di banyak kota di Indonesia meraih KLA kategori utama itu, justru masalah ini sudah relatif teratasi di Padang Panjang. Kota Bandung, misalnya, seperti bisa kita baca di media massa, dilema menyetop iklan rokok di luar ruang jadi kendala untuk meraih KLA kategori Utama.

Menjawab pertanyaan pers, Kadis Sosial Martoni, langkah untuk bisa mengantarkan Kota Padang Panjang sampai ke KLA murni, antara lain yang perlu jadi perhatian itu seperti perlu mencarikan solusi bagaimana di kota ini tidak ada lagi anak-anak (usia di bawah 17 tahun) betul-betul bisa nihil mengemis, mengamen, putus sekolah, dan lalai sekolah karena harus bekerja.

Langah lain, semua kantor pemerintah/swasta dan tempat usaha di kota ini punya ruang ruang tempat ibu menyusui bayinya, di masjid ada ruang bagi anak, memenuhi kebutuhan taman ruang bermain anak (RBA) minimal satu perkelurahan, udara dio kota ini terus diupayakan bebas polusi untuk mereka hirup, air (PDAM, dan sumur gali/pompa) mereka minum yang sehat.

Berikut, bila anak menghadapi kasus hukum, mesti ada pendampingan, baik pada anak sebagai korban, atau sebagai pelaku. Semua ini menurut Kadis Sosial Martoni butuh komitmen bersama. Tidak cukup oleh pemerintah saja dengan semua unit kerjanya, tapi juga butuh dukungan dan peran seluruh warga kota.

Karena, sesuai yang ditetap oleh Kementerian PPPA-RI, ada 27 indikator program yang terbagi pada 5 klaster mesti jadi perhatian dan ditindak lanjuti. Kelima klaster itu terdiri, hak sipil dan kebebasan, hak mendapat pendidikan, hak mendapat layanan kesehatan dasar/kesejahteraan, lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif, serta hak mendapat perlindungan khusus. ** Yetti Harni/Berlianao Jeyhan

WhatsAppFacebookTwitterYahoo MailLineGoogle GmailEmailYahoo BookmarksShare


Sumber: portalberitaeditor.com
DOWNLOAD APK APLIKASI ANDROID BERITA RANAH MINANG


   

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.