Limopuluah Kota, Editor.- Keberadaan pabrik gambir milih PT.Sumatera Resourch International (SRI) di Pangkalan Kabupaten Limapuluh Kota mengancam puluhan rumah rumah kampo gambir.

Keterangan yang berhasil dikumpulkan dari petani dan pekerja kampo gambir di Kecamatan Pangkalan dan Kapur IX mengatakan, pabrik gambir milik Penanaman Modal Asing (PMA )itu, mengolah gambir dengan mesin mesin yang moderen, hanya mempekerjakan beberapa orang tenaga kerja lokal dan pekerja ahlinya merupakan tenaga kerja asing dari India,tidak seimbang dengan jumlah tenaga kerja manual yang bekerja di rumah rumah kampo gambir.

Setiap rumah kampo gambir, mempekerjakan minimal 3 orang tenaga kerja. Jumlah rumah kampo yang ada di Kecamatan Pangkalan, Kecamatan Kapur IX, kecamatan Harau, Kecamatan Mungka, Kecamatan Bukit Barisan yang merupakan penghasil Gambir di Limapuluh Kota ,mencapai Ratusan buah, dengan serapan tenaga kerja ratusan orang.

Bila pabrik gambir dari India itu telah memproduksi gambir sesuai dengan kapasitas mesin yang dimilikinya,di yakini rumah rumah kampo gambir tidak lagi berproduksi dan tenaga kerjanya bakal kehilangan pekerjaan sehingga mereka akan menjadi pengangguran, karena petani akan memilih menjual daun gambirnya ke pabrik gambir milik asing itu, ketimbang menyuruh tenaga kampo mengolahnya.

Walinagari muaro paiti Marsis P.S.Pd yang ditanya Media ini mengakui dampak keberadaan pabrik gambir milik PT.SRI di Pangkalan bisa mengancam keberadaan rumah kampo dan tenaga kerjanya.

Rumah kampo bisa tidak berproduksi lagi dan pekerja kampo itu tentu kehilangan pekerjaannya,mereka tidak bisa lagi mangampo, kalau petani gambir menjual hasil panen daun gambirnya ke pabrik gambir di Pangkalan.

Tapi, bila dikalkulasikan hasil panen petani di jual ke pabrik,jelas merugikan petani,karena dihargai hanya Rp 2000 perkilo, sementara di olah di rumah kambo hasilnya Rp 20.000 perkilo. Empat sampai lima kg daun akan menghasil 1 sampai 1,5 gambir kering yang sudah siap untuk di ekspor. Berarti pihak pabrik hanya membeli gambir kering sekitar Rp 10.000 perkilo,kalau daun yang dibelinya hsnya Rp 2000 perkilonya. Berarti petani rugi,lebih menguntungkan diolah dirunah kampo secara manual atau tradisional, jekas wali Nagari Muaro Paiti.

Kabid ketenaga kerjaan dinas Perindustrian dan tenaga kerja Kabupaten Limapuluh Kota Afrizal S .Sos dalam percakapan dengan media ini Kamis (26/7) di ruang kerjanya mengakui dampak keberadaan pabrik gambir milik PT SRI mengancam tenaga kerja pengolahan gambir dengan cara tradisional.

Dari segi petani , mereka lebih untung menjual daun gambir hasil panennya ke pabrik gambir di Pangkalan ketimbang diolah di rumah kampo.

Di pabrik daun gambir itu dihargai saat ini Rp 2000 perkilonya, itu setara dengan harga gambir saat ini Rp 20.000 perkilo,karena hitungannya 10 kg daun gambir itu menghasilkan 1 kg gambir murni,ujar Aprizal ( Datuak Feri panggilan akrabnya).

Bila diolah di rumah kampo, hasilnya dibagi dua, 50 porsen untuk petani dan 50 porsen untuk pengolah,bila di jual ke pabrik, hasil penjualannya murni untuk petani,walaupun hanya dihargai Rp 2000 perkilo,ujarnya/ ** Yus

WhatsAppFacebookTwitterYahoo MailLineGoogle GmailEmailYahoo BookmarksShare


Sumber: portalberitaeditor.com
DOWNLOAD APK APLIKASI ANDROID BERITA RANAH MINANG


   

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.