TOPIKINI.COM – Berbagai pola dan cara yang dilakukan pengarang dalam menghasilkan karya sastra. Salah satunya dengan mengawali dari status sosial media (Sosmed). Itulah yang dilakukan Ermanto sehingga melahirkan novel Sansai.

”Secara resmi, novel yang berlatar cerita budaya Minangkabau yang ditulis oleh orang Minangkabau ini belum diluncurkan. Namun sudah diedarkan sejak Juni,” kata Ermanto yang juga Wakil Dekan 1 Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) UNP ini kepada Topikini, Senin (2/7).

Profesor di bidang linguistik ini menceritakan sejak zaman Balai Pustaka hingga tahun sembilan puluhan cukup banyak karya sastra berupa novel yang berlatar cerita budaya Minangkabau yang dihasilkan oleh pengarang Minangkabau.

Olek karena itu, dirinya merasa perlu menyemarakkan kembali penulisan dan penerbitan karya sastra terutama novel yang dihasilkan oleh pengarang Minangkabau.

”Mudah-mudahan penerbitan novel Sansai ini dapat memotivasi pengarang Minangkabau untuk menghasilkan karya sastra terutama novel,” kata pria kelahiran Painan, 12 Februari 1969 itu.

Novel ini menceritakan kehidupan orang kampung yang terpinggirkan oleh permasalahan adat dan terpinggirkan oleh masalah ekonomi. Merantau adalah salah satu jalan yang harus dipilih untuk meningkatkan harkat dan mertabat keluarga itu. Lika-liku kehidupan perantauan dapat diatasi asal memiliki kejujuran dan kegigihan.

Lebih lanjut disampaikan Ermanto, novel ini tidaklah memuat pengalaman pribadi pengarang dalam artian dialami oleh pengarang. Namun novel ini memuat persoalan sosial yang pernah terjadi dan diamati oleh pengarang atau mungkin akan terjadi di dalam lingkungan kehidupan masyarakat Minangkabau secara khusus atau mungkin saja di dalam masyarakat luar Minangkabau secara umum.

”Singkatnya, persoalan kehidupan di dalam novel ini adalah hasil amatan pengarang terhadap kehidupan orang-orang kecil, masyarakat miskin atau masyarakat pinggiran di Minangkabau yang tentu saja telah terjadi atau akan terjadi di tengah kehidupan modern saat ini,” kata Ermanto.

Untuk penulisan, dia menceritakan novel ini ditulis dengan proses yang unik. Awalnya dirinya menulis secara bersambung penggalan cerita dalam status media sosial (medsos) hampir setiap hari. Jadi, novel ini ditulis kurang lebih selama dua bulan. Akhirnya keseluruhan isi novel dari semua status dalam medsos itulah yang diterbitkan dalam bentuk buku novel.

Dia berharap terutama pada mahasiswa dapat menulis karya sastra
Khusus untuk mahasiswanya, dia berharap dengan terbitnya novel ini dapat dijadikan motivasi oleh mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia agar mau menghasilkan karya sastra dan mau menerbitkannya. (eko)


Sumber: topikini.com
DOWNLOAD APK APLIKASI ANDROID BERITA RANAH MINANG


   

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.