Pasbar, Sumbardetik.com – Puluhan masyarakat Kapunduang Kecamatan Kinali, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat (Sumbar) diduga terkena dampak pencemaran limbah perusahaan pabrik kelapa sawit PT Rimbo Panjang Sumber Makmur (RPSM) yang aliran pembuangannya kesungai Batang Tingkok.

“Benar, air sungai yang digunakan sehari hari oleh Masyarakat untuk mandi diduga sudah tercemar oleh Limbah dari PT. RPSM, Akibatnya badan masyarakat banyak yang gatal-gatal dan penyakit kulit lainnya,” kata Ketua Pemuda Kapunduang, Boy Sandi Lubis di Kinali, Selasa (03/07).

Ia mengatakan tercemarnya Sungai Batang Tingkok itu diduga sudah terjadi sejak empat bulan yang lalu.

“Air sungai itu terlihat keruh dan berminyak serta menimbulkan bau yang sangat busuk,” ujarnya.

Menurutnya Sungai Batang Tingkok itu biasa digunakan masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari seperti mandi dan mencuci. Namun, empat bulan terakhir banyak masyarakat yang mengeluh gatal-gatal dan penyakit kulit lainnya.

Akibat dampak itu maka masyarakat Kapunduang membuat surat kesepakatan berdasarkan rapat bersama pada 28 Juni 2018 di rumah adat Kapundung terkait dugaan pencemaran Sungai Batang Tingkok.

“Akibat air keruh dan berbau itu mengakibatkan timbul penyakit kulit gatal-gatal dan ikan larangan tidak berkembang di sungai itu,” katanya.

Pihaknya juga sudah menyampaikan surat protes ke Bupati Pasaman Barat dan DPRD.

“Surat sudah kami serahkan ke bupati langsung agar menindak tegas perusahaan. Selain itu juga ke DPRD Pasaman Barat,” ujarnya.

Ia berharap kepada pemerintah dan DPRD agar mengambil sikap tegas terhadap perusahaan PT Rimbo Panjang Sumber Makmur (RPSM). Jika dibiarkan terus maka masyarakat yang akan menanggung akibatnya.

Salah seorang korban, Raman saat dikonfirmasi membenarkan air Sungai Batang Tingkok diduga tercemar. Kondisi air keruh, hitam dan berbau.

“Benar, badan saya gatal-gatal setelah mandi di sungai itu. Saya sudah dua kali berobat namun belum sembuh,” katanya singkat.

Hal senada juga di jelaskan oleh Awi, bahwa istri dan tiga (3) orang anak nya juga mengalami sakit kulit, namun telah 2 bulan lebih mereka rutin berobat masih belum sembuh.

“Hampir semua masyarakat di sini yang sehari hari memanfaatkan air sungai ini mengalami penyakit kulit, seperti istri dan tiga orang anak saya yang sudah 2 bulan ini mendapatkan penyakit kulit yang sangat gatal, meskipun sudah berobat ke Puskesmas namun sampai saat ini belum sembuh”, ujar Awi.

Selain dirinya, ia mengaku banyak warga lain yang juga mengalami gatal-gatal dan penyakit kulit lainnya setelah mandi di sungai itu.

Dari data korban yang mengalami gatal-gatal selain Raman adalah Uki, Isum, Rahel, Dimal, Anton Rosmalinda, Ampu sekeluarga, serta Alwi dan Azmar.

Saat Hal ini dikonfirmasi oleh Media ke Manejer PT. RPSM “Sopian” melalui Telpon genggamnya maupun sms, “namun pihak Manejer tersebut sama sekali tidak memberi jawaban”, begitu juga saat dikonfirmasi melalui Humas PT RPSM, “Kasman”, baik telpon, sms maupun pesan Whatshap.

Sementara itu Kepala Bidang Pengawasan Dinas Lingkungan Hidup Pasaman Barat, Yulina saat dikonfirmasi awak media Kamis (05/07) mengatakan pihaknya telah turun ke lokasi dan telah mengambil sampel air sungai yang di duga telah tercemar tersebut dan telah membawanya ke Padang untuk di tes.

“Tim kami telah turun ke lokasi yang diduga telah tercemar sesuai pengaduan masyarakat tersebut, kami juga telah mengambi sampel nya serta sudah membawa nya ke Padang untuk di uji, mengenai hasilnya kita harus menunggu kurang lebih lima belas hari ini”, ujar Yulina.

“Kalau hasil uji tersebut telah keluar nanti akan kita umumkan melalui media”, tambah Yulina.(Dedi R)


Sumber: sumbardetik.com


DOWNLOAD APK APLIKASI ANDROID BERITA RANAH MINANG


   

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.