Penulis Prof.Dr.Duski Samad, M.Ag Guru Besar UIN Imam Bonjol Padang

Lebaran kata terbanyak yang ditulis, dibaca dan diperbincangkan di bulan Mei dan Juni ini. Lebaran itu tradisi yang bermula dari merayakan 1 Syawal hari nan fitri.

Ketika syariat Islam begitu membumi perayaan idulfitri sarat makna religi. Itulah sebabnya mudik lebaran dapat dikatakan wujud cinta fitri. Sunkem pada abi dan  ummi,  serta bersalaman memohon kesalahan diri adalah wujud meneguhkan silaturahmi.

Kini, idul fitri religi dalam isi dan misi mulai tereduksi sekedar menjadi tradisi. Tradisi menunjukkan kesan islami. Kenyataan, mempertontonkan siapa diri.

Tradisi berbalut janji menjadi barang dagangan politisi, supaya dapat mempertahan kursi. Tradisi fitri diisi dengan prilaku dan gaya hidup tak terpuji harus di kritisi. Tradisi yg dipolitisi akan berakibat buruk bagi religi.

Sulit menyatakannya. Tetapi dapat dirasakan bahwa lebaran religi bergerak jauh melebihi tradisi. Penumpang lebaran religi terjebak dalam arus komersialisasi.

Uang banyak, barang mewah dan gaya hidup hedon menghiasi diri yang dipamerkan lantaran tak paham lebaran religi. Budaya luhur saling memaafkan dan saling mengunjugi yang diwariskan melalui tradisi mulai luntur alasan materi.

Tidak sekedar politisasi dan komersialisasi idul fitri.  Malah ada yang lebih buruk lagi. Yakni mereka yang mengkapitalisasi idul fitri.

Kunjungan silaturahmi dikreasi bermuatan pengenalan politisi yang bersyahwat tinggi duduk di kursi.

Politisi bermodal piti minus prestasi dan reputasi menjadi incaran agen penjual misi nagari. Sungguh ngeri, akibatnya saat negeri dipimpin orang tak berbudi dan tak mengerti.

Kembali pada tatanan idul fitri religi,  tentu harus tetap diyakini puncak capai hamba yang hakiki. Idul fitri religi menjadi saat untuk merayakan kemanangan jihad taqwa ilahi. Jihad taqwa dapat menunjukkan jati diri, prestasi dan bersih diri.

Semangat berpribadi,  bersih diri dan suci hati itu , merupakan capaian idul fitri religi.  Allah SWT berfirman dalam kitab suci.


يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِنْ تَتَّقُوا اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّـكُمْ فُرْقَانًا وَّيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَـكُمْ ۗ  وَ اللّٰهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ
"Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan furqan (kemampuan membedakan antara yang hak dan batil) kepadamu dan menghapus segala kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Allah memiliki karunia yang besar." (QS. Al-Anfal 8: Ayat 29).

TRADISI DAN KOSMOPOLIT.


Tradisi itu kebiasaan yang diterima melalui pewarisan dari nenek moyang satu komunitas. Tradisi itu bersifat given, begitu adanya, ia bisa tetap, berubah dan hilang sekalipun.
Pemegang tradisi cerdas terus membangun kesadaran akan arti, fungsi dan makna tradisi.

Sungguh sangat disayangkan,  ada mereka yang bersikukuh dengan tradisi, tanpa mau mengikuti hasil ilmu dan tekhnologi.

Mereka itu menempatkan tradisi melebihi dari semesti. Tradisi yang dinaik kelaskan menjadi imani adalah ancaman iman dan Islam.

Kosmopolit mulai mengeser tradisi tentu harus dicermati hati-hati. Tradisi yang bermuatan hati harus dapat diinisiasi sesuai misi. 


Menjadi hilang makna dan rasa bila tradisi berkunjung, bersalaman dan bersilaturahmi fisik, lalu di ganti dgn WA, SMS; facebook, intagram dan vitur yang berbasis tekhnologi.

Era digital bagaikan pisau bermata banyak tradisi tergeser tanpa disadari. Sekaligus kapitalis mereguk untung tiada henti. 


Transportasi segala jenis moda begitu sesak, berimbas menjadikan pemilik rekening membengkak.  Industri kuliner dan peganan kue menjamur di seantro kota dengan merayu selera di zaman edan. *


Sumber:bangunpiaman.com
DOWNLOAD APK APLIKASI ANDROID BERITA RANAH MINANG


   

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.