Kapolres Pariaman di STIE Sumbar Pariaman. Foto/Nanda
Pariaman ----- Polres Pariaman intensifkan sosialisasi untuk menangkal paham radikalisme ke sekolah dan kampus. Sosialisasi itu, sebagai upaya pihak kepolisian menangkal masuknya paham radikalisme di dunia pendidikan.

Kapolres Pariaman AKBP Andry Kurniawan mengatakan, lembaga pendidikan seperti sekolah dan kampus rawan disusupi kelompok teroris guna menyebarkan paham radikalisme.

"Penangkapan tiga orang pelaku di kampus Universitas Riau di Pekanbaru awal bulan kemaren, menjadi warning bahwa radikalisme sudah mulai merasuki mahasiswa," ujarnya saat melakukan sosialisasi anti inteloleransi, radikalisme dan terorisme di kampus STIE Sumatera Barat, Senin (11/6) pagi.

Ke depan selepas libur Idul Fitri 2018, pihaknya akan langsung mengunjungi berbagai sekolah yang tersebar di wilayah hukum Polres Pariaman. Masa Orientasi Siswa baru di SMA dan SMP di Kota Pariaman dan Padangpariaman, akan menjadi momen pihaknya mensosialisasikan anti radikalisme.

Selain itu, sosialisasi menangkal paham radikalisme dan terorisme, juga dilakukan hingga ke desa dan nagari. Bhabikamtibmas bersama Kepala Desa dan Babinsa TNI akan terlibat mensosialisasikan hal itu.

"Kita akan sosialisasikan ke sekolah. Ini harus dilakukan untuk mengantisipasi agar tidak ada mahasiswa ataupun pelajar kita yang terpapar dengan paham radikal ini," ulasnya.

Menurut Andry, kejahatan terorisme adalah bentuk kejahatan "criminoly motivatied" atau kejahatan yang termotivasi. Kejahatan dengan motif tersebut, sulit dicegah, karena apapun yang dianggap menghambat tujuan pelaku, akan ditabrak atau dimatikan.

"Bahkan, membunuh orang lain dan bunuh diri, mereka lakukan. Karena tindakan mereka dipicu motivasi yang kuat," kata dia.

Ia menyebut, kepolisian dan pihak lain dapat melakukan upaya deteksi dini terhadap adanya bibit paham radikalisme. Selain itu, langkah tersebut harus mendapatkan dukungan dari masyarakat.

"Kepekaan terhadap lingkungan, terutama dengan orang baru yang memiliki perilaku tertutup. Kedepan, Polres Pariaman akan memperkuat langkah pencegahan dengan pencerahan pemahaman keagamaan oleh ulama kharismatik di wilayah Polres Pariaman," pungkasnya.

Terpisah, anggota DPRD Kota Pariaman Kota Pariaman Mulyadi menyebut, lembaga pendidikan rentan disusupi paham radikalisme. Status akademik, tidak menjadi jaminan terhadap seseorang untuk tidak terpapar oleh pemahaman radikalisme.

"Status akademik, tidak jaminan bebas dari paparan paham radikalisme ini. Otak pelaku bom Bali, Azhari adalah seorang doktor. Namun, nyatanya malah menjadi kelompok teror," sebutnya.

Upaya pencegahan terhadap paham radikalisme penting. Mulyadi menilai, jika selama ini, pencegahan tersebut dilakukan terlambat. Setelah terjadi serangan teror, baru ada sosialisasi.

"Kepolisian sebetulnya sudah sangat maksimal melakukan sosialisasi, namun perlu didukung oleh skate holder lainnya. Pemerintah daerah melalui pihak terkait perlu mendukung upaya yang dilakukan pihak kepolisian," ulasnya.

DPRD Kota Pariaman, imbuh Mulyadi, akan menyetujui program sosialisasi menangkal paham radikalisme jika Pemko Pariaman mengusulkan. Bahkan, dalam kegiatan reses di daerah pemilihan, DPRD Kota Pariaman juga mensosialisasikan anti radikalisme dan terorisme. (Nanda)

Sumber: Pariamantoday.com
DOWNLOAD APK APLIKASI ANDROID BERITA RANAH MINANG


   

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.