Pariaman, Editor.-  Kamar kecil yang ukuran 2 X 3 meter, gelap dan berbau tenggik adalah tempat yang jadi momok bagi tahanan dan warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas II Karan Aur Pariaman.

Sebagaimana yang diceritakan Awaluddin, mantan  Kepala Desa  Parak Paneh  Kecamatan Pariaman Selatan Kota Pariaman, kamar itu dijadikan lahan bagi para sipir untuk mendapatkan uang dengan mempertakut tahanan dan warga binaan, terutama yang baru masuk Lapas tersebut.

Awaluddin masuk Lapas Karan Aur karena kasus pemalsuan tanda tangan jual beli tanah dan mulai ditahan Rabu (30/ 5) dan kini menghuni Blok A 3 berukuran  6 X 7  dengan penghuni  30  warga binaan, menunggu putusan sidang dari Pengadilan Negeri Paraiaman.

Menurut Ketua Blok A, Henri, warga binaan asal Nareh, dan dibenarkan Awaludddin, salah satu tradisi di Lapas Karan Aur, setiap warga baru ditakut-takuti sipir akan dimasukkan ke sel kecil berukuran 2 X 3 meter tersebut untuk pengenalan . Agar tak dimasukkan ke sel itu, tahanan harus melobi sipir dan mengeluarkan uang Rp 500.000.- sebelum ditempatkan ke kamar 2 A.

Lapas Karan Aur Pariaman juga punya tradisi tidak memungut biaya bagi pengunjung. Tapi sebaliknya  bagi  warga binaan yang terima  tamu, sudah setor kepada masing pos  setelah tamu pergi.   Melewati Pos  tengah  sudah ayar  Rp 10 ribu, kepada  ketua kamar setor Rp 10 ribu  dan bagian tamu  setor Rp 10 ribu. Total  yang dikeluarkan  oleh warga binaan  bila merima tamu harus mengeluarkan biaya Rp  30 ribu.

Di Lapas Karan Aur hampir merata warga binaan memakai telepon seluler dan mereka bisa dikatakan jadi “ATM” bagi  petugas atau sipir yang rajin  menangkap HP warga binaan. Kalau kepergok bisa diselesaikan dengan denda   Rp 100 ribu hingga 200 ribu.  ** Afridon

WhatsAppFacebookTwitterYahoo MailLineGoogle GmailEmailYahoo BookmarksShare


Sumber: portalberitaeditor.com
DOWNLOAD APK APLIKASI ANDROID BERITA RANAH MINANG


   

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.