Suasana debat Pilkada Pariaman 5 Mei 2018. Foto/Istimewa
Debat kandidat Pilkada Pariaman sesi pertama 5 Mei 2018 usai digelar. Sesi kedua atau terakhir akan digelar pada 23 Juni 2018. Yang tersisa dari debat sesi pertama tersebut adalah kekecewaan. Penyebabnya masyarakat terlalu berharap lebih pada acara tersebut sedangkan yang diharapkan belum maksimal disuguhkan.

Debat kandidat sekelas Pilkada yang disiarkan secara langsung pula di teve, radio dan internet streaming itu, masih berkutat pada persoalan bias. Baik panelis dan para calon belum berhasil menggali potensi lewat pertanyaan-pertanyaan bemutu lagi tajam.

Baca juga: Debat Paslon Sesi 1 Belum Maksimal Gali Kompetensi Calon

Hal krusial yang diharapkan masyarakat keluar dari mulut paslon tidak terungkap dalam debat tersebut karena para panelis dan calon itu sendiri belum menguasai isu utama yang sedang berkembang di tengah masyarakat. Jadilah acara tersebut semacam prasyarat pemenuhan seremonial belaka karena sifatnya wajib.

Isu teknis tentang sebagian kewenangan Pariaman yang diambil alih oleh provinsi seperti pendidikan merupakan isu utama di tengah masyarakat Pariaman. Masyarakat mencemaskan jika suatu saat pemerintah provinsi tidak sanggup menyelenggarakan pendidikan gratis di tingkat SLTA karena minimnya anggaran.

Ketiga paslon mengaku memiliki program sekolah gratis. Hendaknya para penanya menanyakan bagaimana mekanisme dan cara kerjanya. Sumber dana, aplikasi dan dasar undang-undangnya. Sebuah program baru akan berjalan jika ada mekanisme yang runut, tidak tumpang tindih dalam hal peraturan dan user friendly (atau tidak rumit) dalam pelaksanaan.

Belum lagi isu pengentasan kemiskinan dan penyediaan lapangan kerja bagi pengagguran. Fenomena sosial seperti LGBT, penggunaan narkoba di kalangan pelajar, isu meningkatnya pelecehan seksual, kenakalan remaja seperti tawuran dengan menggunakan senjata tajam. Banyak lagi yang belum dikupas.

Untuk debat pilkada, tentu tertumpang harapan kepada para panelis. Panelis mesti memahami persoalan mendasar masyarakat Pariaman agar ia bisa menguliti masing-masing pasangan calon. Lewat kepiawaian para panelis biasanya kompetensi para calon akan keluar dan mengapung ke permukaan dengan sendirinya.

Yang terjadi di malam debat itu justru berkebalikan. Panelis terlihat sekali minim persiapan. Minim kajian sebelum menyusun daftar pertanyaannya. Kaku dan berkutat pada pertanyaan remeh yang tidak krusial.

Meski demikian, apapun yang terjadi tentu wajib disyukuri. Dengan terlaksananya debat sesi pertama--yang sukses dari segi acara itu--ke depannya tentu kita berharap panitia lebih mengutamakan substansi dari debat itu sendiri demi kepentingan masyarakat sebelum menjatuhkan pilihannya.

Panitia dituntut harus mampu menghadirkan panelis yang jauh lebih berkualitas, dan kapan perlu mereka turun dulu ke lapangan guna mensurvei isu-isu primer yang ada di tengah masyakat Pariaman saat ini. (OLP)

Sumber: Pariamantoday.com
DOWNLOAD APK APLIKASI ANDROID BERITA RANAH MINANG


   

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.