Ambo, Mengais Sampah di Tempat Pembuangan Akhir Sampah Tungkal Selatan ( Fhoto : Heri Martoni)

Bapak yang memiliki cucu ini, adalah pencari sampah plastik bekas berpenghasilan bersih Rp 40.000 setiap hari. Dari hasil penjualan sampah plastik bekas yang di jual ketempat bank sampah tidak jauh dari lokasi TPSA. 

"Bermacam jenisnya, mulai dari bekas kaleng alumunium, minuman aqua kecil, serta minuman kaleng lainya yang dapat dijadikan uang setelah dibersihkan dan dimasukan dalam karung yang telah disediakan,"ujar  Ambo disela-sela memungut sampah plastik saat bercerita pendek dengan wartawan media ini

Walaupun bekerja dalam hiruk pikuk sampah, baun yang menyengat hingga memenuhi pori-pori kulit, tidak membuat bapak tua ini patah semangat dalam berjuang untuk mempertahankan hidupnya. Bagi kakek ini, bekerja keras dalam lingkungan yang tidak sehat, lebih baik dari pada meminta-minta dalam keadaan tubuh seha.

Berbeda dengan Sona Rianto (46 tahun) saat ditemui dilokasi yang sama aktivitas sebagai pemulung hanya dijadikan pekerjaan sampingan saja. Sebenarnya pekerjaan sehari-hari saya sebagai petan. namun, saat sawah telah ditanami melakukan pekerjaan sebagai pemulung kembali dilakoni. Ujarnya

" jika hanya mengharap dari hasil memulung plastik bekas tentu tidak bisa memenuhi kebutuhan keluarga, penghasilan dari hasil penjualan plastik ini sehari-hari hanya Rp 20.000 sementara kebutuhan keluarga dalam satu hari mencapai Rp. 30.000. Bagaimana lagi pak! Dari pada tidak bekerja, sementara kebutuhan selalu meningkat tentu pekerjaan ditempat kotor ini menjadi pilihan terakhir demi mencukupi kebutuhan keluarga" Ungkap bapak empat orang anak ini dengan nada pasrah.

Ia kembali menuturkan, untuk harga Aqua gelas bekas yang berukuran kecil 6 ribu -7 ribu /kg. Sementara itu. aqua berukuran besar 2 ribu/ kg. Jelas bapak, yang telah tiga tahun bekerja sebagai pemulung di TPSA ini.

Dari pantaun wartawan media ini di TPSA Tungkal Selatan, Kota Pariaman terlihat masih ada anak - anak yang mesti bersekolah dan mendapat pendidikan layaknya seperti siswa lainya, namun cita-citanya pupus dan mesti memutuskan bekerja sebagai pemulung, karena ketiadaan ekonomi dan ingin membantu  keluarga dengan bekerja sebagai pemungut bekas sampah plastik. kata pengawas di TPSA, yang namanya tidak
ingin di publikasikan ke media.

Salah satu tokoh masyarakat dari LPM ( Lembaga Pemberdayaan Masyarakat) Pariaman Utara,  Mawardi, menyampaikan bahwa sangat berharap  Kepada Pemerintahan Kota Pariman, melaui Dinas Pendidikan mestinya ini menjadi catatan kedepanya.

"Jangan ada lagi generasi muda kita, yang tidak bisa merasakan indahnya hingga tamat SLTA, sesuai perda pariaman Wajib Belajar 12 tahun. Namun, fakta dilapangan pendidikan masih dimiliki oleh orang-orang dekat kota saja. Sementara yang jauh dari pelosok terabaikan." himbau mawardi. HERI

Sumber:bangunpiaman.com
DOWNLOAD APK APLIKASI ANDROID BERITA RANAH MINANG


   

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.